CERPEN “Hari Anti Korupsi Internasional” Karya M. Adib Fanani, S.Pd

Tak seperti biasanya, seminggu terakhir pelaksanaan Ujian Kompetensi Bersama (UKB) semester I kulalui dengan pulang-pergi dari rumah, karena bersamaan dengan waktu liburan pondok pesantren. Aku berangkat bersama ayah pagi sekali. Sampai-sampai hampir tiap hari aku menjadi siswa pertama yang masuk sekolah.

Hari ini hari rabu. Sama seperti hari-hari sebelumnya, aku berangkat pagi sekali. Aku duduk santai di bangku taman sekolah. Sambil membuka kembali pelajaran yang akan diujikan. Aku memandang para Pak Kebun memulai pekerjaannya. Ditemani semilirnya angin sisa hujan kemarin, mereka membakar semangat mengawali pekerjaan.


Waktunya istirahat.

            Anak-anak pun berhamburan keluar dari ruang ujian. Aku pun juga berkumpul dengan teman-teman dekatku yang hampir semuanya beda ruangan denganku. Seperti biasa, tujuan utama kami saat jam istirahat adalah kantin. Sambil menyantap makanan masing-masing, kami saling bercerita tentang apa saja.

            Waktu istirahat hampir selesai. Kami menuju taman sekolah. Salah seorang teman kelasku menghampiriku, “Jazirah, kamu dicari Pak Fanani tuh!”. Sontak aku menoleh seraya bertanya, “Ngapain ya?”, “Entah. Mungkin kamu mau dihukum soalnya udah kebanyakan ngelanggar. Hahaha…” “ enak aja! Dasar Cahyo! Emang aku kamu, yang sukanya ngelanggar.. hahaha..” ujarku pada temanku yang bernama Cahyo itu. “Ayo Jazirah, aku anter”. Kami pun berjalan beriringan menuju kantor guru.

            “Assalamualaikum..”, ucap salam kami yang hampir bersamaan. Yang kulihat, keadaan kantor guru waktu itu sedang ribut karena waktu mepet jam masuk ujian kedua. Pak Fanani pun terlihat sibuk. Aku dipersilahkan oleh Pak Fanani duduk dulu menunggu. Tak lama kemudian, Pak Fanani duduk di hadapanku. “Jazirah, kamu dapat amanah dari sekolah untuk lomba pidato di GOR Raci, temanya Anti Korupsi”, dengan raut muka terkejut aku berkata, “Saya, Pak? Kapan itu Pak?”, “Besok, jadi nanti sepulang sekolah temui saya di sini, kalau gak ada ya di kantor guru produktif. Nanti kita latian bersama. Saya harap, isi pidato kita jangan menggurui audien, tapi kita saling mengingatkan saja”, dengan tenang aku menjawab, “Baik, Pak”.


Sepulang sekolah.

            Aku bergegas keluar dari ruangan ujian. Tak seperti biasanya, aku langsung menuju kantor guru, mencari sosok Pak Fanani. Ternyata Pak Fanani berada di kantor guru produktif. Kami mulai berkolaborasi menyusun teks pidato “Anti Korupsi“. Pertama-tama Pak Fanani bertanya padaku tentang apa korupsi menurutku, kemudian hasil pemikiranku dan Pak Fanani digabungkan. Sekitar 30 menit, teks pidatoku sudah terselesaikan.

            Aku pun membacanya di depan Pak Fanani. Aku catat apa saja masukan dari Pak Fanani. Waktu menunjukkan pukul 12.30. “Sudah cukup, Jazirah. Boleh saya minta nomer whatsApp kamu?”, ujar Pak Fanani. “Boleh, Pak”. “Nanti saya tanya kamu, sampai mana persiapan kamu untuk besok. Nanti juga saya minta kamu rekam saat kamu baca pidatonya. Saya ingin tau, hasil akhir kamu latihan bagaimana”. “Baik, Pak”, jawabku. “Besok, jadwal Bapak mengajar di sekolah lain. Anak didik Bapak yang di sana juga membutuhkan kehadiran Bapak dan mereka harus mendapat pendidikan tanpa terkecuali. Jadi kemungkinan besar Bapak belum bisa mendampingimu lomba. Nanti InsyaAllah Bapak konfirmasi pada Pak Chayat. Biar kamu didampingi beliau. Selebihnya saya bimbing lewat whatsApp ya..”, “Baik, Pak”, jawabku sekali lagi. Aku pun pulang ke rumah tanteku di Suwayuwo.

            Selama di rumah, kupelajari kembali pidatoku. Kubaca berulang-ulang untuk persiapan besok pagi. Malam harinya, Pak Fanani menanyakan bagaimana persiapanku via whatsApp. Malam itu juga Pak Fanani memintaku untuk merekam pembacaan pidatoku. Sayangnya, aku sudah tertidur pukul 08.15 WIB, jadi belum sempat kubaca pesan dari Pak Fanani.

            Esok paginya, selepas sholat shubuh, aku membuka ponselku, kudapati pesan Pak Fanani yang memintaku untuk merekam pidatoku. Tanpa pikir panjang, segera kubaca pidatoku sambil merekamnya. Kukirimkan rekaman kepada Pak Fanani via voicenote whatsApp.

Seperti biasa, aku berangkat bersama ayah. Karena waktuku terpotong merekam pidato, aku pun yang biasanya pukul 05.30 WIB sudah siap, jadi molor. Ayah menggerutu karena kemoloranku itu. Ayah mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Aku merinding karenanya. Ayah membalap trek-trek besar.

            Aku sampai di sekolah pukul 06.10 WIB. Aku langsung menuju taman sekolah. Salah seorang guru menghampiriku. “Jazirah, hari ini kamu lomba, kan?”, tanya Pak Khudori. “Iya, Pak”, jawabku. “Diantar siapa?”, tanya beliau kembali. “Katanya Pak Fanani didampingi Pak Chayat”, jawabku, “Oh.. ya sudah kalau gitu.. eh, teksnya sudah diketik?”, koreksi Pak Khudori. “Loh, perlu diketik, Pak?”, tanyaku terkejut. “Loh, iya.. kan nanti teksnya dikumpulkan ke jurinya”, terang beliau. “Loh, Pak.. ndak saya ketik..”, ujarku. “Kemarin latihannya pakek apa?”, tanya beliau. “Pakek coretan di buku kecil, hihihi..”, jawabku seadanya. “Ya sudahlah..”, pasrah Pak Khudori.

            Aku berangkat dari sekolah bersama Pak Chayat pukul 06.45. Pak Chayat melaju motornya dengan kecepatan tinggi. “Waktu kita mepet, Jazirah“, ujar beliau. Kami tiba di GOR pukul 07.10. Situasi yang kami lihat sangatlah sepi. Tak ada satu orang pun yang telah datang. Pak Chayat menghubungi Pak Fanani untuk mengonfirmasi lokasi lomba. Setelah dicek kembali, ternyata lokasi lomba ada di Gedung Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan yang tak jauh dari GOR.

——-

            Lokasi masih lenggang. “Biasa, Pak.. jam Indonesia, jam karet!“, gumamku pada Pak Chayat diikuti sengiran beliau. Apel pagi para pegawai juga belum dilaksanakan. Saat ini kami sudah berada di lantai 3 Gedung Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan. Kami dengan leluasa bisa melihat situasi di halaman gedung, di mana para pegawai melaksanakan apel pagi bersama dari jendela di hadapan kami. “Ternyata posisi satpam di sini menduduki jabatan tinggi, ya.. lihat! Satpam saja bisa jadi pemimpin apel! Hahaha…”, seru Pak Chayat kala melihat seorang satpam yang memimpin apel pagi saat itu.

            Registrasi peserta mulai dibuka. Panitia bersiap-siap menyambut datangnya para peserta. Aku dan Pak Chayat sudah berdiri di samping panitia registrasi. “Mau tampil nomer berapa, Jazirah?”, tanya Pak Chayat. “Emm.. mau tampil nomer 5 aja deh, Pak”, jawabku sekenanya. Jadilah aku mendapat nomer urut peserta nomer 5.

            Lagi-lagi jam Indonesia! Jam molor! Acara baru dimulai sekitar pukul 08.30, menunggu para staff dari Kejaksaan Negeri Kabupaten Pasuruan. Awal masuk ruang lomba, kesannya kita santai sekali, tanpa membawa surat tugas dan teks pidato yang telah diketik. Tapi syukurlah itu semua tak ada masalah. Semua raut muka peserta lomba tegang sekali. Mereka sibuk menghafal, ataupun mempelajari materi yang akan disampaikan. Lain halnya dengan aku yang dengan santainya cengengesan, ketawa-ketiwi bareng Pak Chayat.

            Kini giliranku maju menampilkan pidatoku. Dengan santai aku maju ke depan, memberikan penghormatan pada audien dengan membungkukkan badan, sejurus kemudian aku memulai berpidato hasil kolaborasiku bersama Pak Fanani kemarin siang. Pak Chayat yang duduk di bangku audien terlihat tengah sibuk merekam aku berpidato

 

Salam sejahtera bagi kita semua.

Kepada Yth. Bapak/Ibu Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kabupaten dan Kota Pasuruan beserta staff

Bapak/Ibu dari Kejaksaan Negeri Kabupaten Pasuruan

Hadirin yang berbahagia

Teman-teman yang saya sayangi dan banggakan    

Marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kita kehadirat Allah SWT. Atas limpahan rahmat, taufiq, serta hidayahNya kita dapat menghadiri acara ini dalam keadaan sehat wal ‘afiyat.

            Sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita, nabi besar Muhammad SAW. Yang telah membimbing kita dari zaman kejahiliyaan menuju jalan yang terang benderang, yakni ‘addinul Islam wal Iman’.

Hadirin yang berbahagia. Teman-teman yang saya sayangi dan banggakan.

            Berbicara tentang korupsi, bukanlah merupakan hal baru. Yang hampir setiap hari kita simak di media cetak maupun elektronik. Korupsi secara definisi adalah tindakan tidak wajar, menyalahgunakan kepercayaan demi keuntungan sepihak.

Hadirin yang berbahagia. Teman-teman yang saya sayangi dan banggakan.

            Saat ini, kita masih dalam nuansa Maulid Nabi Muhammad SAW. Mari kita teladani 4 sifat yang dimiliki Rosulullah:

  1. Amanah

Semua yang kita lakukan, harus sesuai dengan amanah yang telah diberikan kepada kita.

  1. Fatonah

Dalam kehidupan ini, kita harus cerdas dalam bertindak dan menyikapi segala hal. Cerdas dalam memilih dan memilah sesuatu yang menurut kita baik atau kurang baik.

  1. Tabligh

Jika memiliki sesuatu yang bermanfaat, sampaikan kebaikan itu walau satu ayat.

  1. Shiddiq

Kita harus bertindak dan bertingkah laku jujur dalam segala hal di kehidupan sehari-hari.

Hadirin yang berbahagia. Teman-teman yang saya sayangi dan banggakan.

            Dalam kasus korupsi ini, kita sebagai peserta didik, cikal bakal, generasi emas bangsa Indonesia jangan pernah mencoba, apalagi melakukan korupsi. Korupsi waktu, penyebab dari korupsi waktu ini adalah menganggap bahwa waktu itu tidak terbatas. Ada kata terlambat, mengulang, dan kembali ke masa lalu. Padahal, waktu terus berjalan setiap detik tanpa ada remote yang bisa menghentikan. Tidak ada kata mengulang atau mereset waktu seperti stopwatch. Korupsi tenaga, dalam melakukan pekerjaan apapun, jadilah manusia yang 100 %. Artinya, lakukan disetiap pekerjaan se-optimal mungkin. Dan korupsi amanah, semua yang diamanahkan kepada kita, mari kita lakukan dengan sebaik mungkin. Kelak, ada pertanggung jawaban.

Tentunya, semua ini harus kita dasarkan pada yang pertama, keteguhan iman. Apa yang kita peroleh setiap hari dalam agama, mari kita aplikasikan dalam melangkah, bertindak sesuai anjuran agama. Yakin dan percaya bahwa rezeki, “Siji gak bakal loro, loro gak bakal siji” Artinya, kita harus yakin bahwa semua yang diciptakan di bumi pasti ada tujuan dan sudah ada yang mengaturnya, yakni Allah SWT.

Yang kedua, mengendalikan diri untuk melakukan semua hal sesuai dengan amanah. Yang ketiga, paham akan hak dan kewajiban. Contohnya, sebagai peserta didik, hak kita adalah menerima ilmu dari Bapak/Ibu guru dan elemen sekolah. Kewajibannya mentaati semua tata tertib sekolah. Diakui tidak diakui, suka tidak suka, di antara kita masih saja ada yang terlambat sekolah, bahkan pulang sebelum waktunya, mengerjakan tudas tidak sesuai deadline atau melebihi deadline, mencontek pada saat ujian, dan sebagainya. Itu semua meupakan contoh kecil dari tindakan korupsi. Yang keempat, hati nurani. Lakukan semua pekerjaan dengan hati nurani. Kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, dan kerja tuntas.

Apabila semua ini bisa kita lakukan, kita dapat menghindari yang dinamakan korupsi baik di lingkungan keluarga, masyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Demikian yang dapat kami sampaikan. Mudah-mudahan bermanfaat dan teriring ridho dari Tuhan YME. Apabila ada kata-kata yang kurang berkenan, mohon dimaafkan.

ولسلام عليكم ورحمةالله وبركاته

——

Pidato yang kubawakan cukup singkat, namun mencipatakan sensasi yang luar biasa. Aku merasa membawa nama besar sekolahku, bertanding melawan SMA/SMK se-Kabupaten. Saat penampilanku, jantungku memompa darahku terlalu cepat. Hatiku bergemuruh. Namun, aku mencoba bersikap santai, seakan-akan aku telah terbiasa tampil di depan khalayak.

            Peserta demi peserta maju ke depan menampilkan pidatonya. Sangatlah bosan menyaksikan betapa banyaknya peserta yang tampil itu. Pak Chayat pun mengajakku turun ke dasar gedung untuk menikmati bakso. Aku sih mau-mau saja.

            Selepas makan bakso, adzan dzuhur berkumandang. Kami segera menuju masjid yang tak jauh dari tempat kami. Kami pun ikut berjamaah.

Aku mengirim pesan via sms pada Pak Chayat selepas sholat dzuhur. Rupanya, Pak Chayat masih ingin bersantai di masjid. Beberapa menit kemudian, aku sudah menerima sms balasan dari Pak Chayat.

 

 

 

Aku kembali mendengarkan pidato dari para peserta lain. Sangat membosankan. Kuaktifkan jaringan data ponselku, sejurus kemudian aku sudah berkutat dengan dunia maya, untuk sedikit menghilangkan rasa bosanku. Beberapa saat kemudian, Pak Chayat sudah duduk di sebelahku.

——-

Waktu pengumuman hasil lomba.

            Tentu saja ini merupakan waktu yang sangat mendebarkan bagi semua peserta dan pembimbingnya. Hanya aku dan Pak Chayat yang nampak biasa saja. Panitia mengumumkan, bahwa keenam pemenang akan mengambil hadiah dan tampil kembali pada hari sabtu, bertepatan dengan Hari Anti Korupsi Internasional di GOR. “Oh.. yang menang tampil lagi, Jazirah!”, seru Pak Chayat. “Ya kalau menang, Pak.. hahaha..”, jawabku sekenanya.

            Juri telah mengumumkan hasil penilaian mereka. Dan aku menduduki juara harapan 3. Tak apalah, memang waktu yang diberikan untuk persiapan sangatlah mepet. Dan ada sepercik rasa bangga telah membawa nama sekolahku ditingkat Kabupaten.

            Aku sangat bersyukur atas ini semua. Dan aku merasa sangat berterima kasih kepada Pak Fanani yang telah membimbingku mencurahkan segenap tenaga dan pikira dalam perlombaan ini, meski hanya di belakang layar. Terima kasih kepada kedua orang tuaku, yang senantiasa mendoakan dan men-suport apa saja kegiatan dan cita-citaku. Dan ucapan terima kasih juga tak lupa kusampaikan pada Pak Chayat yang telah mendampingiku selama perlombaan.

 

#Selesai#

(Sukorejo, 09 Desember 2019)

 

 

 

 

 

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *